SMPN 1 Bontang. (FOTO: Re/narasipedia.net)
BONTANG. SMP Negeri 1 Bontang menjadikan pengalaman tahun sebelumnya sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan inklusi. Tahun lalu, sekolah ini menerima dua siswa inklusi dengan pendampingan penuh.
Kepala SMP Negeri 1 Bontang, Riyanto, mengatakan bahwa evaluasi dari pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan pendamping. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan terbaru.
“Kalau tidak ada pendampingan, kami khawatir bisa mengganggu teman-teman yang lain,” ungkapnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menilai pendampingan mampu menjaga stabilitas kelas. Meski demikian, sekolah tetap mempertahankan konsep pembelajaran inklusif tanpa pemisahan kelas. Siswa inklusi tetap berada dalam kelas reguler bersama siswa lainnya.
Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses pendidikan. Semua siswa mendapatkan hak yang sama dalam belajar.
Dirjnya menjelaskan jika kebutuhan pendamping tidak bersifat mutlak bagi semua siswa inklusi. Penentuan dilakukan berdasarkan kondisi psikologis masing-masing.
“Jika diperlukan, pendamping akan membantu siswa dalam mengikuti pelajaran. Peran ini menjadi penting dalam mendukung adaptasi siswa di kelas,” bebernya.
Namun, penyediaan pendamping bukan tanggung jawab sekolah. Orang tua diminta untuk menyiapkan pendamping sesuai kebutuhan anak.
Pendamping dapat berada di dalam atau luar kelas tergantung kondisi siswa. Fleksibilitas ini menjadi bagian dari strategi SMP Negeri 1 dalam mengelola pendidikan inklusi.
PENULIS: Re